Sudah hampir 2 minggu rumah ini tanpa ajik, sudah banyak petuah yg datang, “ikhlas ya, ajik sudah tenang disana” kurang lebih begitulah pesan2 yg datang. Hidup pun berjalan kembali, kami berusaha baik-baik saja. Kami tahu bahwa masih ada ruang kosong yg terbuka lebar, tapi kami tak saling membahas itu. 

“Ikhlas itu hanya sebaris huruf romawi, gung” kata tom2 pada sebuah pesan whatsapp,
“Berapa lama kamu perlu waktu utk merelakan kepergian bapak?” Balasku,
“Di summer term aku nangis tiap Minggu. Di winter aku nangis tiap Minggu juga” katanya lagi
“Boleh aku nangis sekarang?” 
“Please, silakan…” 

air mata mulai mengalir pelan di sudut mata.

Utk kali ini aku tak ingin terlihat tegar atau kuat, atau apalah namanya, aku tak peduli, harapan dan semangatku telah habis.

Siang tadi aku lewat jl. Diponegoro, mungkin sekitar sebulan lalu aku dan ajik melewati jalan itu, mengantar beliau memperbaiki kacamatanya yg dipatahkan oleh gungde satya, kami mampir ke beberapa toko, akhirnya diperbaiki di optik depan ramayana, dan kacamata cadangan kami dapatkan di optik sahabat. Saat itu kondisinya masih lemah, tapi beliau bersemangat utk bisa jalan-jalan setelah sekitar 2 bulan hanya di rumah sakit dan rumah. “enak rasanya dapat sinar matahari” katanya saat itu. Akupun semangat melihat progress dan semangatnya, aku yakin sebulan lagi ajik akan sembuh.

Ternyata terlalu banyak kenangan di setiap sudut kota, di setiap ruas jalan, di setiap perjalanan waktu. 

Setiap pertemuan selalu berpasangan dengan perpisahan, mungkin inilah waktu kami. terima kasih, Ajik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *