Skip to content →

aku adalah kamu

Dulu waktu SD, saya punya temen muslim, orangnya putih, matanya sipit, kami memanggilnya dengan nama Acong. ada temen lain karena bibirnya agak maju, kami panggil Nyunyu (berasal dari kata munju = bibir maju, bahasa bali), ada juga anak perempuan yang gigi depannya kelewat besar, kami panggilnya si tonggos.

Kalo tak pikir-pikir lagi, anak-anak SD kok maennya kejam begitu yak, maen fisik banget, tapi untungnya sampai sekarang kami masih berteman baik, kadang-kadang manggilnya masih dengan sebutan masa kecil, dan ga ada yang marah sih, malah sebagai penanda, yang manggil dengan sebutan itu pasti temen SD.

Oia, sama Acong dan Nyunyu ini karena rumah kami berdekatan, nyunyu di komplek perumahan sebelah, sedangkan acong di mushola perumahan sebelahnya lagi, jadi sampai SMP kami masih sering bareng, apalagi hobby kami sama: baca komik. biasanya setelah penerimaan rapot, ketika awal liburan sekolah kami akan pergi bareng untuk sewa komik. Acong & Nyunyu punya member di penyewan komik Bromo&Hasri waktu itu masih di jl. Surapati, dekat SMP 1 Denpasar, deket sekolahnya mereka, sedangkan saya punya member di taman baca Doraemon di jl. kecubung. karena tempat tinggal kami di pesisir timur kota denpasar, dan tempat2 tadi ada di tengah kota denpasar, jaraknya sekitar 6 km dari rumah, untuk mencapai taman baca tersebut kami mesti menumpang angkot, pertama kami ke Bromo&Hasri, karena koleksinya lebih lengkap, kemudian untuk menghemat bekal agar bisa menyewa lebih banyak, kami jalan kaki ke taman baca Doraemon, ga jauh sih, jaraknya kira-kira sekitar 2 km, waktu itu belum kenal panas terik matahari, “demi komik, kita terobos semuanyaa!!”, biasanya kami berangkat pagi, supaya siang bisa sampai dirumah lagi, dan memberikan kesempatan kepada Acong untuk sholat, sambil dia sholat, kami bergelimpangan di teras mushola sambil baca komik. kami seringkali berangkat bertiga karena ada aturan di taman baca yang membatasi jumlah sewa setiap member, klo ga salah satu member cuma bisa sewa 5 buku gitu, jadi kalau bukunya berseri, si A sewa 1-5, si B sewa 6-10, si C sewa 11-15, kemudian kita tuker2an bacanya, kegiatan itu kami lakukan selama kami duduk di bangku SMP. setelah itu tak pernah lagi, kami sibuk dengan kesibukan masa remaja masing-masing, apalagi Acong pindah bersama keluarganya, mengikuti ayahnya pindah tugas.

Ketika SMA saya terjerumus ke pergaulan permusikan, bersama kawan2 yang kebetulan satu SMP dulu, kami bikin band, ada Dedy, Harry, Mita, Nilam, Nina, Lala, dan Kak Is. Lala & Nina adalah adik kelas di SMA, sedangkan kak Is adalah kakaknya Nina dan temannya Harry di Gereja. jaman SMA saya seringkali ikut Harry nongkrong di gereja, maklumlah dia anaknya polos dan anak Gereja sejati, nongkrongnya di gereja aja, jadi klo saya mau nyari harry, ya di gerejalah tempatnya, ga jarang juga diajak ikut kebaktian, daripada saya bengong nungguin harry, ya mending saya ikutan juga donk.

Seru! yang paling saya inget itu waktu di Lembah Pujian, saya lagi ada urusan buat nyari Harry, dan dia lagi ikutan acara di Lembah Pujian, padahal saya ngantuk banget karena semalem kurang tidur, setiap pendeta memberi khotbah, saya akan menunduk dengan khusuk, ketika ada pujian dengan nyanyian yang menyelamatkan saya. hehehe. pernah juga ikut acara gereja di Buduk, lupa cerita pastinya kenapa saya bisa disana, sepertinya saya minjem gitar atau keyboard nina, dan saat itu mau dipake di Buduk, jadi saya kesana untuk balikin, ya sekalian aja saya ikutan.

Nongkrong di mushola, berkunjung ke gereja-gereja, sampai saat ini belum mbikin saya berniat untuk pindah agama, ya ngapain juga saya pindah agama, di agama saya yang sekarang aja saya masih belum tau apa-apa, masak mau pindah ke rumah orang lain? begitu juga harry dulu sempat bantu kami lomba mekidung karena mayoritas orang hindu sebelum lomba kami mengadakan sembahyang bersama, harry sebagai peserta juga ikutan ke pura, tapi sampai sekarang dia masih teguh sama gerejanya. karena kami – saya dan teman-teman percaya, kita semua sama, aku adalah kamu, agama hanyalah cara kami mengekspresikan keTuhanan kami dengan cara yang berbeda, sesuai keyakinan kami masing-masing.

Saya heran dengan orang-orang sumbu pendek sekarang, dikit-dikit nyalahin orang lain, pohon natal & topi santa dianggap penghinaan agama, ada canang di gereja dituduh kristenisasi, duh! kalian itu kayaknya kurang piknik, mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam. sekali-sekali mainlah yang jauh, biar tau bumi itu luas.

dan datar.

eh bulat!

datar!!

BULAT!!

DATAR!!!

ah sudahlah, lain kali saja kita bahas

Published in blog

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *