Skip to content →

bekerja

“sol sepatu… sol sepatu… sol sepatu”

suara tukang sol sepatu sayup2 terdengar lewat di depan rumah, dari balik komputer saya mendongakkan kepala ke jendela, ya udah tau sih itu bukan tukang sayur, tapi pengen noleh juga, hebat ya mas tukang sol sepatu itu hari minggu, dia jalan kaki keliling

“yaa namanya juga kerja, ada yang kerja seperti kuda, karena memang perlu, ada juga yang karena passion”

halah, kenapa nyangkut ke passion?

jadi kebayang film dari babibutafilms yang ditonton tadi malem di Pemutaran Kolektif di Minikino, film kedua “Cinta yang Asu”, memfilmkan tentang skena genk RX King yang suka groanggroeng itu dan pelacuran. tapi ga ada drama yang termehek-mehek, film yang asu. dari ngobrol dengan sutradaranya mengatakan, memang seperti itulah apa adanya di lapangan, salah satu penegasannya, bila di republik kita, PSK itu distigma menjadi pekerjaan kotor, memalukan, hina, kemudian media selalu membingkai mereka adalah korban dari keadaan, yang terpaksa terjun ke dunia prostitusi karena terpaksa (kemudian nangis sesenggukan), tapi di lapangan tidak semua seperti itu, seperti yg ditangkap di film tadi, si PSK bekerja dengan profesional, kenapa? karena mereka sungguh totalitas dengan apa yang mereka jalani, di beberapa scene tampak dia berjalan ke kamar pelanggannya menggunakan kostum pelayan restoran dengan rok yang mini, atau menggunakan kostum remaja SMA, kadang-kadang kostum pramugari lengkap dengan kopernya. saya kagum dengan totalitasnya.

totalitas, ketekunan. membuat saya teringat satu lagi dengan pedagang kue molen di jalan patimura, jaman begadang buat tugas, sanjay rajin beliin molen itu untuk bekal kami membuat tugas sampai pagi, hingga hari ini mas dagang molen tersebut masih jualan, dengan rasa yang sama. (molennya, bukan mas nya)

jadi, apakah mereka bahagia dengan pekerjaan mereka? entahlah, saya belum bertanya langsung pada mereka, tapi setidaknya mereka menjalani perkerjaan mereka dengan tekun. seperti yang mas Anggi – sutradara film Cinta yang Asu – bilang, semua pasti ada masalah, baik itu PSK maupun pegawai bank, tapi yang kita angkat bukan drama problematika itu, tapi dari kacamata yang manusiawi, tidak lebih, tidak kurang.

lalu, apakah untuk mencintai pekerjaanmu kamu harus 24 jam 7 hari berada di kantor? kembali lagi, kerja kan ga harus di kantor, apa sih istilahnya? pekerjaan dan profesi? gitu kali ya? :p

Published in blog

One Comment

  1. Bekerja ga selamanya di kantor atau dibelakang meja, yang penting kita kerja dimanapun tempatnya yang penting halal, setuju ga? semoga kita sukses selalu dalam segala hal. terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *