[04-Dec-2018 07:31:49 UTC] PHP Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function add_action() in /home/gdubrakc/public_html/gung.ws/wp-content/themes/founder/inc/customizer.php:4 Stack trace: #0 {main} thrown in /home/gdubrakc/public_html/gung.ws/wp-content/themes/founder/inc/customizer.php on line 4 Ceng Beng | sagamora Skip to content →

Ceng Beng

Menikah diluar lingkaran “saudara” ternyata enggak buruk juga, ada banyak hal yang bisa dipelajari, bikin hidup lebih berwarna. setelah melewati upacara pernikahan yang meriah, upacara pemakaman yang juga meriah, sekarang tahun kedua saya ikut merayakan Ceng Beng atau Ching Ming atau Qing Ming… ya begitulah pokoknya.

Sebenarnya ritual antara Bali dan Cina tidak banyak berbeda, semua dirayakan dengan meriah, penuh warna dan mengacu pada leluhur. pada hari Ceng Beng pun demikian, sebuah perayaan untuk menghormati leluhur, warga tionghoa akan ziarah ke kuburan, membersihkan makan sekalian bersembahyang.

Walaupun sudah beberapa kali ke kuburan Cina di desa Carangsari ini, saya masih selalu terkagum-kagum dengan bentuk makam yang besar-besar banget, menggembung membulat pada ujungnya, dengan nisan yang besar lengkap dengan meja altar sebagai tempat persembahan, dan di beberapa makam nisannya masih menggunakan tulisan Cina, “ada yang masih bisa baca tulisan ini?” tanya saya yang sayangnya dijawab oleh geleng-geleng kepala seluruh anggota keluarga. saya pikir makam yang besar seperti itu hanya ada di film vampir Cina yang sering saya nonton di channel RCTI ketika kecil dulu, eh ternyata beneran ada, apakah peti yg besar dan berbentuk bunga seperti di film juga ada? katanya sih ada, tapi cuma digunakan sampai generasi kakek, untuk yang sekarang jarang ada yang dikubur, kebanyakan kremasi, prosesinya jadi lebih sederhana.

Ceng Beng 2018

Ceng Beng 2018

Ceng Beng 2018

Hari itu selain keluarga kami, tampak beberapa keluarga dari marga lain juga berkumpul di beberapa sudut area kuburan, kuburan jadi terasa riuh, saling sapa dan ngobrol karena jarang berjumpa, saya selalu tersenyum mendengar “nyama toko” ini ngobrol, menggunakan bahasa bali tapi dengan panggilan-panggilan nama Cina mereka :)

Ceng Beng 2018

Ceng Beng 2018

Ceng Beng 2018

Ceng Beng 2018

satu lagi yang saya suka dari ritual Cina, makanannya banyaaaak. babik pula. duh.. duh… duh.. mana sanggup ku menolak :))

*foto-foto diatas difoto menggunakan kamera fujifilm X-A2, diedit menggunakan VSCO

** “saudara” yang saya maksud disini adalah kerabat atau mereka dengan kasta yang sama ~petuah para tetua, nantilah saya ceritakan di artikel lain

Published in blog photography

3 Comments

  1. yapin joh nganten, yen alih sulurne kanti ke anak lingsir, dijamin menemukan rentetan karma menyame ne. biasanya sih gitu…

  2. Btw saya tetarik dengan opening quotes “Menikah diluar lingkaran “saudara” ternyata enggak buruk juga,” , bukannya malah tidak baik menikah dengan masih ada hub.keluarga atau saudara? hmm

    • gungws gungws

      ah maaf tulisan saya kurang jelas, maksudnya “semeton”, para tetua saya seringkali menganjurkan untuk mencari semeton ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *