Skip to content →

dibalik Visual

Suatu siang, awal tahun 2014, saya berkunjung ke rumahnya bligung @bgskesumayudha, sekedar ngobrol-ngobrol biar ga gila karena kebanyakan ngobrol sama computer. Ngobrol kangin – kauh sampailah ke sesi nostalgia, yang palin gseru adalah mentertawakan film-film pendek yang kami buat ketika SMA kemarin, eh tunggu, kalau ga salah kami angkatan masuk SMA tahun 2003, tahun 2004 mulai bikin film gegara terjebak di ekskul jurnalistik, dan waktu itu bikin film keliatan lebih seru daripada menghapal barisan unsur kimia atau mencoba memahami berapa daya yang diterima sebuah bis ketika berbelok ke kanan dengan kecepatan X km/jam.

Dan tak terasa waktu itu sudah tahun 2014, artinya 10 tahun sudah kami “bercanda”, memperingati satu decade kelucuan hidup kami, saya mengusulkan untuk membuat film genre pop cinta-cintaan, menantang kami apakah masih bisa meramu cinta2an ala abegeh, cerita itu mesti ringan, ga perlu menghabiskan banyak waktu, durasi kami perkirakan 15 menit cukuplah. Dan juga untuk memperbaiki kenorakan film2 pendek kami di masa remaja. Sungguh cita-cita yang sangat mulia, kan? Mulailah bligung yudha membuat skenarionya, dan seperti biasa, kami saling lempar dulu untuk skenario, kalau yudha sudah selesai buat, saya baca dan koreksi dari sudut pandang saya, saya kembalikan ke yudha untuk dikoreksi lagi, begitu sampai kira-kira tidak ada alasan untuk mencerca skenario tersebut.

Kemudian saya yang biasanya bertugas mencari tempat yang sesuai skenario, melobi penunggu setempat, dan bligung yudha yang bertugas mencari pemeran, karena nanti dia yang akan mengarahkan aktor & aktrisnya. Karena kami bukanlah film maker “beneran”, jadi pemerannya pun biasanya adalah temen-temen yang tepat dan kebetulan lewat di waktu yang salah. Akhirnya didapatlah pemerannya Adit – adik kelas kami di SMA 3 yang kebetulan lagi jenuh sama tugas akhirnya, Tika- adik kelasnya yudha di kampus, anak nongkrong UKM kesenian, dan kru film: Wayan Rya, temennya Tika – anak nongkrong UKM kesenian. Udah.

Oia, ada Raka juga yang bantuin minjem tempat di perpustakaan UNUD bukit. Udah.

Udah, segitu aja kru nya. Yudha sutradara, saya kameramen, Wayan Rya assistant sutradara, Adit & Tika pemeran merangkap kru. Udah.

crew Visual Short Movie
kru film pendek Visual, saya masih kurus

Alat-alatnya pun sederhana, modal eos 700D, tripod & slider minjem, klipper darurat, ya segitu aja sih alatnya.

Lokasi syutingnya lebih banyak di perpustakaan UNUD di Bukit Jimbaran, kemudian di rumah abe, (saya lupa kenapa milih rumahnya abe, sepertinya karena yudha mesti ada meeting bareng THEKANTIN jadi syutingnya sekalian kita pindahin *dikeplak), pantai di jimbaran (saya lupa, soale disini saya absen karena ada urusan yang tak bisa ditinggal), pasar burung, sepanjang jalan satria denpasar dan gajah mada, rumah saya di gianyar (yang berikutnya kami pakai juga untuk syuting film horror Tok..tok..tok, Cermin, dan Leak) untuk scene pohon-pohonannya, dan Desa Tenganan. Oia, di Mangsi Coffee Hayam wuruk juga (trims Windu, kalau ada yang kangen sama mangsi coffee yang lama, silakan intip di film ini). Syutingnya memakan waktu sekitar 7 hari. Dieditnya sebulan, disimpennya 3 tahun, durasinya jadi 30 menit.

BTS Visual short movie
bela-belain sampe Tenganan, padahal gambarnya cuma selintas lewat :))
BTS Visual short movie
Adit sebagai Adit, dan Tika sebagai Galuh
BTS Visual short movie
diskusi

Kok bisa didiemin 3 tahun?

Kok bisa jadi 30 menit? Katanya mau bikin yang maksimal 15 menit??

Iye, jadinya kepanjangan, karena saking asyik dan mengejar detail, durasi jadinya melar, mestinya ada beberapa adegan yang bisa kami potong sih, tapi ya sudahlah :p

Trus kenapa bisa mengendap lama? Emang sih ini bikin film, bukan tape atau wine, ini gara-garanya, setelah kami selesaikan film dan preview internal, kami ketemu @sigilahoror, dan malah serius membahas bagaimana cara membuat film horror, formula film horror kayak gimana? Bikin yuk! 3 menit2 aja, lanjutlah kami membuat 5 film horror, 2 film pendek penuh darah. Dan moment film cinta-cintaan ini lewat deh. Eh sempat juga kami putar di minikino, tapi penonton lebih tertarik dengan yang horror. Hehehe

Sampai akhirnya februari 2017, kebetulan jadwal agak senggang, tiba2 yudha kepikiran film ini lagi, mumpung momentnya pas menjelang valentine, kami sepakati agar film disebar aja dah.

Terima kasih teman-teman yang sudah bantu produksi film pendek ini, adit, tika, wayan rya, pygmos, dedy, Ade mr.deaf, dan semuanyaah.

Selamat menonton

foto-foto lainnya bisa dilihat disini

Published in blog

One Comment

  1. Dunia mu itu kreatif Gung… Dunia yang dulu pernah ingin digeluti, tapi karena nyasar di pemerintahan, pola pikirnya jadi berubah :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *