Skip to content →

foto cetak

cetak

pertamakali punya kamera digital itu sekitar tahun 2004 atau 2005, klo ga salah itu kelas 2 SMA, kamera poket sony, “cuma” 3,2 megapixel. saat itu rasanya udah canggih banget. kepikiran seperti archimedes dengan eureka-nya. inilah revolusi dokumentasi! memotong proses panjang cuci cetak film menjadi tinggal jepret, nanti transfer ke komputer, sortir, simpan sesuai tanggal atau kegiatan. EUREKA!

sejak saat itu perkembangan fotografi digital sungguh melesat cepat, seingat saya sempat jeda dari digital untuk pake SLR (single lens reflect) ketika mata kuliah fotografi 1 & 2, berikutnya kembali pada euforia digital, kamera DSLR saya yang pertama *dan belum nambah lagi :p* adalah canon 400D, sebelum itu sering dipinjemin kamera sama chemmy atau janot, kamera nikon D70.

tahun 2013 mulai pakai iPhone, mau tak mau harus diakui juga salah satu revolusi di dunia fotografi digital. saya jatuh cinta pada fitur foto iPhone bukan karena megapixelnya, tapi komposisi lensa yg mengakibatkan hasil foto lebih padat. sejak saat itu saya tak pernah punya kamera, lagipula kerjaan saya lebih banyak dibalik meja, klo perlu foto tinggal whatsapp anggara atau project managernya sudah menyediakan foto yang siap ditata. lagipula dengan kamera ponsel, tidak berat untuk dibawa traveling, ada spot bagus, tinggal berhenti, keluarkan ponsel dari saku, jepret, unggah di instagram, trus di-unfollow karena ga ngajak jalan-jalan :p kekurangannya ya batre hp jadi cepat habis karena digunakan untuk banyak hal.

setelah kurang lebih 10 tahun, sepertinya jenuh juga dengan digital ini, mungkin juga gara-gara trend adobe Lightroom, vsco, instagram, dan bergaul dengan @tokotuamentereng, saya jadi lebih suka melihat foto dengan efek film, lebih tepatnya foto yg dibuat dari gulungan film, kamera analog, yang filmnya perlu dikokang dulu sebelum foto berikutnya, dan yang lebih puas adalah melihat foto tersebut dicetak.

setelah dilihat-lihat lagi, tipe file foto yang paling banyak memenuhi hardisk saya baik di komputer maupun di ponsel, hampir 3/4 dari kapasitas harddisk adalah foto, tapi kesempatan untuk melihat-lihat foto itu bareng teman-teman sungguh jarang, ya karena fotonya ada di ponsel, udah ga jamannya lagi minjem ponsel temen atau pamerin ponsel, foto lainnya ada di harddisk di rumah, ngapain juga jalan-jalan bawa harddisk, atau jika lagi pada kumpul dirumah, udah males banget untuk buka komputer, ngumpulnya kan untuk bersenang-senang, ngapain juga buka alat untuk kerja :p kemudian liat foto-foto lama aji & ibu waktu mereka masih teruna – bajang, waktu kecil ngeliat itu ga ngerti! ini pada ngapain sih jalan-jalan ga jelas, foto-foto ga jelas, ngabisin duit aja. tapi sekarang baru paham, melihat foto yang diprint/dicetak itu lebih terasa, karena bisa dipegang, disentuh, ga bisa rusak karena harddisk error, paling-paling kena jamuran (klo jamuran pun tak usah khawatir, kan ada Sena di SK imaging utk restorasi foto. hahaha), dan ada rasa rindu dan seru yang gimana gitu kalau liat foto lama bareng-bareng, mengambil setiap lembar fotonya, trus ngetawain wajah culun.

coba deh

Published in blog

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *