Skip to content →

fotografi analog

analogAlkisah saya sedang bersih-bersih lemari (biasalah desainer ya, bebersih seharian, dua hari kemudian udah berantakan hingga 3-6 bulan berikutnya) dan menemukan kamera analog Olympus om-1 milik Aji yg dulu menyelamatkan saya di matakuliah fotografi 1, penasaran juga apakah masih bisa dipakai, gimana rasanya motret dengan analog yg meteringnya tak berfungsi :)) & sudah terlalu lama juga maenan dgn megapixel. Jadilah kemudian saya mampir ke kediaman mas Reza, markasnya Toko Tua Mentereng (@tokotuamntrng). Tiap dateng kesana selalu ada barang-barang lawas yg baru (halah.., baru ditemukan kembali maksudnya), dan akhirnya saya diberi segulung roll film kodak superia 200, “bawa aja sekalian pake ngetes kamera & filmnya” kata Reza. Haseek! Pasang film di om-1 trus, motret siapa yak? Pas banget cece bilang mau ke pantai bareng yudhi & parwata, ya udah saya ikutan. Sambil nginget-nginget ramuan utk motret di pantai.

Dulu (“dulu” yang dimaksud disini sekitar tahun 2006 ya, masih jaman kekinian kok) klo ga salah menghabiskan sekitar 10 roll utk hapal komposisi diafragma-shutter, tiap motret dicatet, gitu terus sampai film habis, kemudian bawa ke B&M Photo – yg dideket GOR itu-¬†utk dicuci, baru kemudian dipilih, kodenya dari lingkaran, kotak, segitiga, tanda X utk setiap slide yg dipilih utk dicetak, mbok & bli disana udah hapal bgt klo anak ISI yg dateng pasti repot deh, langsung diarahkan ke meja yg pke lampu buat milih-milih sendiri, belakangan akhirnya kami disuruh ngobrol sama operator mesinnya & milih langsung disana, karena sistemnya semacam scanner, film dimasukkan/scan, langsung ada preview trus kita pilih, kemudian langsung diprint.

Nah karena sejak 2008 udah maenan digital, hitungannya pun jadi rusak. Sistem metering digital cerewet & sensitif, awal2 pindah dari analog – digital agak kesulitan ketika metering di analog digunakan di digital kadang bisa jadi under exposure. Sekarang balik lagi ke analog (yg meteringnya mati) nginget2 lagi deh, setelah menghabiskan segulung fujifilm superia 200, beginilah hasilnya :D

analog 01

analog 03

analog 04

analog 06

masih berantakan sih, kemarin ga diawasi proses scanningnya, nanti mau scan ulang ah, ada yang punya scanner film? selain @nitharenitha? ;))

Mana lebih bagus fotografi analog atau digital? tergantung keperluan sih, keunggulan digital ya apalagi kalau bukan kecepatan, jepret langsung keliatan hasilnya, kurang-lebihnya, bahkan sekarang kamera-kamera digital udah pake wifi, sambungin ke wifi ponsel, transfer, kirim ke klien/redaktur atau ke instagram tentunya. kalau analog woles. habisin dulu satu roll, trus cuci, trus mau cetak atau scan, terserah kalian :)

 

Published in photography

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *