Skip to content →

menggunakan jasa bpjs

“Pake BPJS dik? katanya ribet ya?” tanya seorang bapak tua kepada saya ketika mengantar istri berobat ke RS (iyalah, masak ke dukun)

saya jadi bingung sendiri jawabnya, sebenernya gampang sih. kalau kamu merasa agak tidak enak badan dan perlu pendapat dokter, dateng aja ke puskesmas atau faskes 1 yang tertera pada kartu BPJS mu, nanti kalau faskes 1 mu merasa penyakitmu terlalu berat untuk ditangani disana, maka mereka akan merujukmu ke rumah sakit yang lebih mumpuni.

ribetnya kalau kamu tiba-tiba merasa (misalnya) sakit perut dan terasa hampir mati pada dini hari, puskesmas nggak ada buka donk ya, maka jalan satu-satunya ke UGD rumah sakit terdekat. ribetnya biasanya muncul disini, kadang RS bilang perlu surat rujukan, atau penyakitmu kurang gawat untuk ditangani di RS. itu cuma ilustrasi sih, tapi kadang bisa terjadi…
kadang-kadang….

walaupun ribet-gak-ribet, BPJS cukup membantu saya & cece,

pertama, ketika cece lahiran. rencananya lahiran normal di klinik sekitar tohpati, tapi malemnya tiba-tiba air ketubannya mrembes duluan, dan keruh, dokter tak berani mengambil resiko untuk menunggu hingga bukaan lengkap, jadi dirujuk ke RS rekanan klinik untuk segera diambil tindakan operasi. sembari menunggu tim operasi lengkap, saya melengkapi administrasi, dan seperti biasa RS selalu punya pilihan mau pakai BPJS murni atau naik kelas. klo ga salah waktu itu perbedaanya ada di kamar, kalau BPJS murni kamarnya bareng dengan pasien lain, klo naik kelas bisa sendiri. tingkat kelasnya tergantung dari biaya tambahan. karena pertimbangan ibu & bayi perlu ruang privat dan mengantisipasi kerabat yang berkunjung, saya pilih yang naik kelas, sebut saja BPJS+. setelah perawatan selama 3 hari, biaya tambahan yang mesti kami bayarkan sekitar 3jutaan. harga yang lebih hemat daripada lahiran di klinik seperti rencana awal, ayey! oia, RS tempat cece lahiran adalah RS Premagana di Batubulan, sedangkan faskes 1 nya ada di Puskesmas Dentim, di kasus ini kami ga perlu surat rujukan dari puskesmas Dentim karena sudah mendapat rujukan dari dokter kami.

cerita kedua, setelah beberapa bulan lahiran, ternyata kista dalam tubuh istri bukannya mengecil tapi malah membesar, kami pun konsul ke dokter kandungan yang sejak awal memantau kondisi cece, dokter menyarankan untuk mengangkat kista tersebut, surat rujukan sudah disiapkan, dokter membebaskan kami untuk memilih tanggal untuk operasi, kalau ga salah inget, jangan pertengahan bulan, karena dia bilang ada tugas luar. karena cece merasa masih bisa nahan sakitnya dan banyak pertimbangan untuk melakukan operasi lagi, salah banyaknya adalah masih trauma operasi, kasian ninggal si kecil, keuangan lagi seret, dan banyak alasan lainnya, kami pun menunda operasi. hingga pertengahan bulan, pada suatu subuh yang nggak dingin-dingin banget, cece bangunin saya karena sakit pada perut kanan bawah yang tak tertahankan. kami langsung berangkat ke klinik, sampe depan klinik baru inget:
1. dokternya cuma praktek malem.
2. dokternya lagi tugas keluar kota, besok baru dateng.
kalaupun dateng ke RS Premagana, siapa yang operasi donk? akhirnya bangunin adik untuk nemenin periksa di RS Puri Raharja. pertimbangannya adik adalah perawat di sana, kemudian RS itu cukup dekat dari rumah.

setelah asam mefenamat dan suntikan penghilang nyeri tak mempan, kami memutuskan untuk tindakan operasi. sambil nunggu dokter, saya melengkapi administrasi. tujuan utamanya pokoknya mesti dioperasi secepatnya, karena sakitnya udah ga bisa ditawar banget, dan ternyata harga layanannya juga ga bisa ditawar *ikut nangis*. uang tabungan baru aja dipake bayar kuliahnya cece, belum lagi persiapan upacara sikecil, “klo pake BPJS sesuai tanggungan bisa, bu?” tanya saya kepada bagian administrasi, “bisa, tapi kamarnya masih penuh” jawab si ibuk.

nah, di sini juga nih ribetnya BPJS, kadang-kadang kamar untuk BPJS hanya sebagian dari total kamar di RS, dan itupun seringkali sudah penuh. setelah negosiasi lama dibantu adik dan rekan2nya, akhirnya ada kamar yang kebetulan pasiennya udah mau pulang siang itu (ya ga salah juga sih si ibuk, waktu pagi itu kan udah penuh, karena si pasien masih tercatat disana, tapi klo sore ada kamar kosong).
operasi berjalan lancar, kista segede dosa sudah dikeluarkan, kami juga sudah mendapat kamar.

kalau di RS Puri Raharja ini, BPJS kelas 1 dapet jatah kamar kelas 2, satu kamar isi 2 pasien. kalau di RS lain ada yang satu kamar berdua, ada juga yang bertiga, tergantung kebijakan manajemen masing-masing. setelah 3 hari nginep di RS dan drama mata berkaca-kaca setiap video call ke rumah nanyain si kecil, akhirnya cece boleh pulang. dan tidak ada biaya tambahan yang perlu kami bayarkan kali ini. karena sudah sesuai dengan kelas BPJS yang kami punya.

well, ternyata ga sia-sia bayar Rp 80.000/orang setiap bulannya, dibandingkan mesti operasi dengan biaya mandiri, yang kemarin itu biaya operasinya aja sekitar 12juta, belum termasuk biaya kamar selama perawatan. tapi yang paling baik emang sehat sih. hehe

Oia yang paling sering memanfaatkan BPJS sih Ajik saya, pokoknya sakit dikit aja pasti ke dokter,
biasanya periksa di RS Bhakti Rahayu, di poliklinik BPJS yang ngeri banget klo antre sore-malem, mulai antre jam 7, dapet gilirannya bisa jam 10. selain kasian pasiennya yang capek nunggu, kasian juga dokternya mesti menangani pasian yang buanyak bangget. klo anter ajik berobat kesana saya pasti bawa bekel cemilan yang banyak, sekalian kasih ke dokter yang jaga. hehe

yak begitulah pengalaman menggunakan BPJS. yang mesti diingat adalah ini merupakan program kesehatan dengan sistem rujukan/berjenjang, jadi kita ba bisa seenaknya pilih rumah sakit yang kita mau, kecuali keadaan gawat darurat. ada baiknya juga pilih rumah sakit yang ada kenalan, baik itu saudara atau tetangga, yang bisa bantu administrasi di RS, karena seringkali program kerjasama macam begini birokrasinya agak panjang.

sekian dulu yak ceritanya, jikalau ada yang punya saran atau pengalaman yang sama atau beda, silakan berbagi di kolom komentar.

semoga semuanya sehat sentosa ;)

Published in blog

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *