Skip to content →

selamat datang

26 mei 2017, mungkin hari paling sentimentil dalam hidup kami-saya, istri & satya-

sejak pemeriksaan kandungan seminggu sebelumnya, dokter sudah menyarankan si kecil sudah harus dilahirkan minggu ini, karena mulai terjadi pengapuran pada plasentanya, jadi ditunggu sampai hari kamis apabila tidak ada tanda kontraksi, maka hari jumat akan kita mulai proses induksi. hari demi hari kami lalui dengan lancar dan sehat sentosa, itu berarti hari jumat pagi saya & istri mesti mulai bersiap di klinik Bunda Setia, klinik pilihan kami untuk melahirkan anak pertama.

pagi yang cerah, cek kandungan dulu, ternyata jalur lahirnya bengkok, langsung diluruskan oleh bidan yang memeriksa (saya langsung takjub dengan bidannya, canggih seperti montir yang biasa kami panggil kalau kami sudah putus asa memperbaiki mobil yang kemudian bisa dia selesaikan dalam 10 menit), setelah diperiksa ternyata sudah ada bukaan 1, untuk induksi kata bidannya mesti bukaan 4, kemudian kami registrasi kamar dan bersiap untuk cek 6 jam lagi, sambil menunggu, bu bidannya menyarankan istri untuk jalan-jalan, olahraga jongkok bangun dan berkegiatan supaya bukaan semakin lebar. kondisi bayi sudah masuk ke panggul sejak sebulan yang lalu.

saya menemani istri jalan-jalan di sekitar klinik, maksudnya dia yang jalan, saya duduk-duduk sambil baca buku. waktu berjalan cepat, 6 jam sudah berlalu, waktunya cek lagi, ternyata baru bukaan 2, bu bidan kembali menyarankan untuk jalan-jalan dan olahraga jongkok-bangun, dan dicek 6 jam lagi atau jam 10 malam. istri pun melanjutkan olahraga dengan semangat, saya nontonin aja.

hari sudah semakin gelap, kami sudah mati gaya dan kebosanan, saya sudah mencoba berbagai gaya membaca buku, istri juga sudah berulangkali bolak-balik di sekitar klinik, akhirnya kami memutuskankan mandi biar segar. sambil menunggu istri mandi, saya menemani kedua orangtua dan kakak sepupu dari Gorontalo yang kebetulan sedang di Bali mampir berkunjung, tiba-tiba istri merasa ada sesuatu mengucur dari selangkangannya, segera kami cek ke dokter kandungan. sambil menunggu dokternya saya harap-harap cemas, apakah bukaannya sudah lengkap? apakah sikecil sudah boleh lahir? apa saja yang sudah saya baca seharian tadi? kemudian muncul bu bidan memanggil saya untuk menemani istri, saya lihat ekspresi pak dokter yang biasanya murah senyum terlihat agak sedih, dengan berhati-hati dia mengabarkan kalau ketuban istri saya sudah pecah, sayangnya ketubannya keruh, sangat beresiko untuk melanjutkan lahiran dengan proses normal, demi keselamatan bayi, mesti diambil tindakan operasi SC.

mulai panik. saya pribadi sih tak masalah mau lahiran normal atau SC, yang jadi khawatiran saya adalah apakah si kecil baik-baik saja? saya berusaha menjaga mood istri karena dia sudah sejak lama bersemangat untuk lahir normal, bahaya kalau moodnya berubah, si kecil juga bisa merasakan perubahan mood tersebut, saya masih berusaha normal, kalem dan tentunya masih ganteng. kami pun dirujuk ke R.S. Premagana. tak berapa lama ambulance tiba, kontraksi yang dialami istri semakin sering dan kuat, saya berusaha melucu yang akhirnya menjadi garing. jam 9 malam kami tiba di R.S. Premagana, langsung masuk ke ruang bersalin, sambil mengurus administrasi. bagian ini saya masih bisa sombong, semua kartu sudah saya siapkan, apa aja yang mbak front office minta sudah kami siapkan, saya sempat mau melemparkan dengan gaya Gambit melemparkan kartu, tapi nanti disambit suntikan, jadi saya urungkan niat itu. registrasi 15 menit udah kelar, dokternya belum juga datang, kontraksi sudah semakin kencang, kata istri seperti sakit saat menstruasi tapi dikali 4. jangankan x4, yang satu aja saya ga kebayang. di ruang bersalin cuma ada kami dan beberapa perawat, saking sepinya, saya berkali-kali mengintip kaki perawat-perawat yang lewat, memastikan mereka semua menapak ke tanah. sambil memeriksa denyut jantung si bayi, istri masih terus menahan sakit karena kontraksi, saya mulai semakin khawatir akan keselamatan mereka, sambil juga menahan sakit perut yang entah sejak kapan dia datang. daripada saya tidak menikmati ketegangan yang ada, mending melipir sebentar mencari toilet.

*brb*

well, masalah satu sudah teratasi di toilet sebelah ruang bersalin dibawah tangga, cukup bersih kok, ada kartu periksa kebersihannya juga. kembali lagi ke ruang bersalin, istri berbaring menyamping, menahan sakit karena kontraksi, dan juga khawatir si kecil dalam perut, ini moment yang menegangkan sekaligus menyebalkan, semua ada di dekat saya tapi saya tidak bisa memastikan apakah semua baik-baik saja. tapi melihat perawat-perawat masih duduk tenang setelah melaporkan hasil denyut jantung si kecil ke dokternya, saya berusaha yakin semua baik-baik saja, berikutnya tinggal memenangkan istri yang berusaha menahan sakit, eh tapi gimana caranya? saya ajak ngobrol aja dah, walopun garing banget, kayak ngomong sama patung. yaiyalah, orang lagi sakit diajak ngobrol dan main tebak-tebakan. mau saya tinggal ya ga enak, ditemenin juga rasanya bego banget, tapi rasa sayang yang muncul dari dasar hati ini membuat saya tetap bertahan disamping mereka *tsaaah* ada juga ketakutan yang muncul, tak pernah saya merasakan semenakutkan ini kehilangan mereka, “gimana kalau ibunya saja yang bertahan?” eh gimana kalau bayinya aja yang bertahan?”

“tidak! mereka semua harus bertahan!” kata saya meyakinkan diri, semua pasti bisa diatasi, ini cuma lahiran kok…lahiran pertama biasa panik, namanya juga baru pertama kali, saya berusaha menenangkan diri.

jam 11.15 malam, dokternya baru tiba di rumah sakit, istri langsung dipindahkan ke ruang operasi, saya menunggu di depan ruang operasi, ternyata disana sudah ada ayah dan ibu, tak lama kemudian datang adik yang baru dari kondangan bersama kekasihnya (dan keluarga kekasihnya, lha kok jadi rame?). sekitar 15 menit kemudian terdengar suara tangis bayi. –kayak suara kucing.

“suami ibu emilika? silakan dilihat bayinya” kata perawat muncul dari balik pintu,

jantung berdebar-debar, kenapa kok diliatin bayinya? apakah dia sehat? apakah kupingnya lengkap? apakah hidungnya mancung?” aneka pertanyaan muncul di kepala, sampai ketika saya melongok ke ruang bayi, seorang bayi mungil (ga mungil2 amat sih, berat 3,6 kg dan panjang 55 cm) menangis dibawah sinar lampu, dibersihkan oleh seorang perawat, dokter yang jangkung menghampiri saya menjelaskan bayi laki-laki kami (saya dan istri, bukan dengan dokter) sudah lahir dengan sehat dan selamat, istri juga selamat, sekarang sedang dilanjutkan operasinya, sebentar lagi kelar.

*speechless*

mau nangis tapi malu nangis sendiri, kemudian saya keluar ruangan menemui keluarga, “laki-laki, sehat” kata saya singkat, dijawab pekikan hore dari semua, ga tau kenapa mereka begitu girangnya.

perasaan waswas masih menghantui, saya mesti memastikan istri juga selamat. tak lama kemudian operasi berakhir, dan dibawa ke ruang observasi, baru kemudian perasaan lega sepenuhnya.

kalau diinget sekarang sepertinya lebay banget dah, tapi ketika ada di kondisi itu, emang drama abis. dan sepertinya drama-drama lainnya masih akan dimulai, mari kita bersiap-siap ;)

selamat datang, Satya

Published in blog

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *