Skip to content →

teman hidup

Pada suatu petang yang gerah, saya bertemu kawan lama ketika tersesat di IKJ, namanya Bonifacio – akrabnya dipanggil Boni, pemuda lajang, bersahaja, kreatif, ketika itu kami ngopi-ngopi di Mangsi, dia lagi ada project foto property untuk agoda, dan sedang menanti pasangan hidup, namanya juga obrolan warkop, dari likaliku dunia desain, foto, bideo di bali – jakarta, peran ahok utk ibu kota hingga pertanyaan paling menarik, “gung, ketika memutuskan untuk menikah, darimana kamu tahu bahwa dia adalah orang yang tepat untuk kamu ajak mengisi hari sepanjang hidupmu?”
Sialnya tadi malem saya belum belajar untuk pertanyaan macam begini, ga bawa buku utk openbook, mau googling juga bingung, lama terdiam untuk menjawab pertanyaan ini, bukan baru sadar ini adalah pilihan yg salah, tapi sepertinya tidak ada jawaban yang pasti. Karena sejak pertama kenal sampai sekarang pun masih banyak perbedaan antara kami (kami disini merujuk pada saya dan istri, bukan Boni), bahkan pada hal-hal yang sngat prinsipil, seperti contohnya istri saya adalah kaum kalau makan soto nasinya mesti dicampur, sedangkan saya golongan soto & nasi mesti dipisah!
Menikah bukan cuma tentang menyatunya dua insan dan mengisi hari dengan penuh kebahagiaan, tapi juga selalu belajar memahami satu sama lain, belajar menghargai pendapat dan bernegosiasi. Beberapa teman juga cerita kalau dia dan partner bahkan perlu bertahun-tahun untuk belajar memahami walaupun sudah menikah.
Jadi, kalau kamu jomblo jangan patah semangat, atau kamu udah pacaran bertahun-tahun, jangan bingung apakah dia adalah orang yang tepat, sederhananya, kalau memang ga ada masalah dan semua baik-baik saja, apalagi yang dicari? komunikasi yang baik adalah kuncinya.
*tsaah….serius banget topiknya

Published in blog

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *