Sabtu yang cerah, di hari ke-28 di bulan september, minggu kedua nginep di Rs Puri Raharja. Pagi itu saya bergegas ke rumah mertua di sanur, gantian jaga anak yg dititip disana, hari sabtu biasanya istri berangkat ke kampus lebih pagi. Seperti pagi biasanya, saya menemani dia jalan-jalan di sekitar rumah, sekitar jam 7 kami balik ke rumah, tampak adik beberapa kali menelpon. Satu kali bunyi tuuut langsung dijawab, sepertinya sesuatu yg gawat”
“Halo, kenapa dik?”
“Ajik katanya sempat henti jantung pagi ini, adik segera ke RS”
“Ok, wigung sekarang balik ke RS”
Saya langsung melesat ke RS
.
Menangis sepanjang jalan dari sanur ke RS.

———

Halo Ajik, apa kabar di sana? Kami disini baik, makin gendut. Cucu pertamamu makin nakal dan pinter ngomong, persis gungkaknya. Ajik pasti sudah liat bale dauh ponakanmu, iya, dia menyelesaikan dengan baik, yaa… ada bagian lain yg masih jadi PR, setidaknya satu sudah selesai.
Ajik, ketika kerja sampai malam, kadang rindu juga sapaan “belum tidur, gung?”
Oia, Disney+ udah bisa diakses di Indonesia, jik.. disana ada NatGeo, ada acara hewan-hewan kesukaan Ajik, yang rencananya Ajik nonton sambil nemenin cucu.

Apa yang terjadi setelah setahun? hari pertama pulang ke rumah masih menangis, melihat kursi kosong di teras dan tongkat bambu yang teronggok di sebelah lemari, dan payung cokelat muda yang sering dipakai utk berjemur di pantai. rumah jadi agak sepi, ga ada yang diajak berdebat, atau cerita – cerita tentang Kota Denpasar tahun 80an.

kata pepatah lama, “time will healing…”
setahun ini diisi dengan menjalani hidup dan mengisi kesunyian, sambil mengobati perasaan bersalah karena merasa tak mampu menjaga, ya kadang-kadang masih suka datang menyelinap.

Tanggal ini, setahun yang lalu, kami pulang ke rumah dari rumah sakit cuma bertiga, seorang lagi pulang ke rumah Tuhan.

Kami sayang Ajik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *