[04-Dec-2018 07:31:49 UTC] PHP Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function add_action() in /home/gdubrakc/public_html/gung.ws/wp-content/themes/founder/inc/customizer.php:4 Stack trace: #0 {main} thrown in /home/gdubrakc/public_html/gung.ws/wp-content/themes/founder/inc/customizer.php on line 4 pai teh hingga mekalan – kalan | sagamora - Part 2 Skip to content →

pai teh hingga mekalan – kalan

Gung ws & Cecelika

Gung ws & Cecelika

Tiba di rumahnya cece di Carangsari tampak sudah sangat ramai oleh saudara & kerabatnya, saya grogi, bukan karena mau nikah, tapi karena memang nggak terbiasa di depan banyak orang, agak sedikit kikuk, sebelum masuk rumah, seorang pria tua & kurus menghampiri saya, belum pernah saya lihat sebelumnya, cece juga ga ada bilang apapun tentang penyambutan, kakek itu menghampiri saya, memberikan amplop angpao warna merah, “ini ditaruh di kantong kanan” katanya lirih, dan menyerahkan saputangan yang dilipat berbentuk segitiga, “ini disimpan di kantong kiri, untuk beli telor nanti ya” lanjutnya lagi. Oh mungkin ini cik mangku yang dibilang sama cece beberapa hari sebelumnya, saya pikir cik mangku itu perempuan. Kemudian diantar masuk, seluruh mata mengarah ke saya, yaiyalah yang lain pakai pakaian adat bali atau kemeja biasa, saya lengkap dengan jas hitam. Halaman dipenuhi kursi biru, hampir terisi penuh, saya dipersilakan duduk di depan barisan, di kursi pelaminan berhiaskan kain merah jambu dengan latar kain merah chuan shi. Ngajar di depan kelas sih udah biasa, nah ini bengong di depan tamu, mesti pake gaya apa donk? Beruntunglah ternyata ada yudha yang sedang sibuk makan, sepertinya habis lari-lari dari denpasar ke badung tru nemu sumber makanan, dibelakangnya duduk kakaknya, mbok Gung Mas, daripada bengong, mending saya hampiri mereka, “gung, udah makan?” tanya mb Gungmas, “belum banget, boleh makan dulu?” jawab saya sejujurnya, “bolehlaaah, mau apa? Sup?” tanyanya, “yesss!” samber saya.

Akhirnya perut terisi, aman. Rencananya ngeraos & ngurus adminisrasi dulu, tapi kemudian saya dipanggil oleh cik mangku bersama Aji & Ibu ke depan rumah abu, kemudian cece diapit oleh orangtua juga menuju rumah abu, setelah pai-pai kepada dewa langit, leluhur, dan kedua pasang orangtua, tukar cincin dilaksanakan. Kemudian cece kembali lagi ke kamar pengantin, berikutnya saya bersama kedua orangtua menuju kamar pengantin, eh tapi didepan pintu dicegat sama anak kecil yang jualan telor!ya sudah saya sogok dia dengan angpao beramplop merah agar mau minggir, sebagai gantinya saya diberi 2 telor ayam berwarna merah.

Gung ws & Cecelika

Gung ws & Cecelika

saya diantarkan ke depan kamar pengantin, [tok..tok..tok] permisi, ada termos es? pengantin pria datang, cece sudah menunggu di dalam, bergaun putih dan berkerudung merah, untuk menemui pengantin wanita ga boleh langsung masuk, mesti bareng2 jalan mundur hingga saling bertemu punggung, kemudian kami berbalik dan menangis terharu setelah ribuan tahun terpisahkan saya membuka kerudung merah dan meyakinkan bahwa dibalik kerudung itu adalah gadis yang akan saya lamar, untungnya iya, cantik pula. :p kemudian sembahyang ronde, rasanya….ah sudahlah. setelah itu balik lagi ke depan rumah abu, terus lanjut lagi ke konco di rumah tua, tak jauh dari tempat upacara ini, tapi tempatnya langsung mengingatkan saya akan film-film vampir cina generasi 90an yang sering diputer di hari sabtu pagi itu lhoo, bangunannya berpilar merah, dengan tembok berwarna pastel, kusen dengan aksen merah, ditengah-tengahnya ada meja besar dan diujungnya ada altar, langit-langitnya tinggiiii. keren!

Gung ws & Cecelika

Pages: 1 2 3

Published in blog

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *